Jumat, 15 April 2011

Peta Perekonomian Kota Medan


Medan merupakan salah satu kota besar yang ada di Indonesia dan sekaligus sebagai ibukota Sumatera Utara. Kota yang terdapat di pulau Sumatera ini secara geografis terletak di antara 2 27'-2 47' Lintang Utara dan 98 35'-98 44' Bujur Timur. Posisi Kota Medan ada di bagian Utara Propinsi Sumatera Utara dengan topografi miring ke arah Utara dan berada pada ketinggian tempat 2,5-37,5 m di atas permukaan laut. Luas wilayah Kota Medan adalah 265,10 km2 secara administratif terdiri dari 21 Kecamatan dan 151 Kelurahan dengan jumlah penduduk 1.899.327 jiwa.

Kota Medan merupakan kota ketiga terbesar yang ada di Indonesia, maka seperti kota besar pada umumnya maka wajar bila arahan pembangunan kota yang paling mungkin berkembang di Kota Medan adalah sektor perdagangan dan industri. Maka dapat dikatakan bahwa potensi unggulan lebih menitikberatkan pada kedua sektor tersebut, apalagi dengan didukung oleh sarana dan prasarana yang ada. Kota Medan memiliki posisi yang strategis sebagai daerah yang berada pada pinggiran jalur pelayaran selat malaka dan menjadi pintu bagi arus penumpang serta perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Bagi penduduk Kota Medan, kegiatan perdagangan bersama aktivitas hotel dan restoran menjadi motor penggerak roda perekonomian kota. Selain itu, secara geografis kota Medan juga didukung oleh daerah-daerah yang kaya akan sumber daya alam. Kondisi ini menjadikan kota Medan secara ekonomi mampu mengembangkan berbagai kerjasama dan kemitraan yang sejajar, saling menguntungkan, serta saling memperkuat dengan daerah-daerah sekitarnya.

Secara demografi, Medan juga sedang mengalami masa transisi demografi. Kondisi menunjukkan proses pergeseran dari suatu keadaan dimana tingkat kelahiran dan kematian yang semakin menurun. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan tingkat kelahiran adalah perubahan pola pikir masyarakat dan perubahan sosial ekonominya, sedangkan faktor yang mempengaruhi tingkat kematian adalah adanya perbaikan gizi dan kesehatan yang memadai. Penduduk kota Medan memiliki ciri penting yaitu yang meliputi unsur agama, suku etnis, budaya dan keragaman (plural) adat istiadat. Selain potensi bisnis yang terkandung di dalamnya, terdapat juga potensi di bidang pariwisata. Kota Medan juga sangat pantas dijadikan tujuan wisata, ada beberapa lokasi yang cocok untuk dijadikan objek wisata diantaranya Danau Toba, Berastagi, dan Taman Buaya di kawasan Sunggal, berisikan 3000 ekor buaya aneka jenis. Namun wisata yang paling menarik di kota Medan adalah bangunan tuanya yang dibangun dari pertengahan abad XX di Medan. Dan sebagian besar bangunan tua itu masih ada sampai kini, indah dan memberi gambaran utuh Kota Medan pada masa yang lalu.

Selain dari sektor pariwisata, sektor lain yang juga berkembang dengan baik di kota ini yaitu sektor industri, baik industri besar maupun industri kecil. Terdapat sepuluh produk yang dijadikan andalan kota Medan bila dilihat dari segi pasarnya. Komoditi unggulan ini termasuk produk konsumsi sederhana, inisialnya perabot rumah tangga dari kayu, anyaman rotan, alas kaki dan barang hasil konveksi. Adapun komoditi unggulan dari industri kecil makanan misalnya kopi olahan, sirup markisa, bika ambon dan kerupuk ubi. Salah satu produk makanan ini, bika ambon telah menjadi buah tangan yang khas untuk dibawa bagi yang berkunjung ke kota Medan. Sedangkan bisnis kawasan industri besar hingga saat ini dapat dikatakan belum ada kenaikan yang signifikan. Hal ini mengingat penyerapan kawasan industri sangat tergantung terhadap stabilitas politik, keamanan dan ekonomi. Penurunan kepercayaan dunia usaha secara keseluruhan, akibat krisis moneter yang berkelanjutan menahan perusahaan-perusahaaan asing untuk melakukan investasi industri baru di Indonesia, akibat kondisi ekonomi politik yang terjadi akhir-akhir ini, memaksa sejumlah investor asing menunda ekspansi bisnisnya ke Indonesia. Bisnis kawasan industri swasta memiliki mitra dengan swasta asing yang juga berfungsi sebagai jaringan pemasaran di negara asal mitranya.
Demikian uraian dari saya mengenai peta perekonomian kota Medan, semoga informasi yang saya berikan dapat menjadi sumber inspirasi dan berguna bagi pembangunan ekonomi Indonesia terutama kota Medan.

Senin, 11 April 2011

Bagaimanakah Strategi & Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia Dimasa yang Akan Datang


Pasti kita sering mendengar istilah perencanaan pembangunan, khususnya di bidang ekonomi. Conyers & Hills (1994) mendefinisikan “perencanaan” sebagai ”suatu proses yang bersinambungan”, yang mencakup “keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan berbagai alternatif penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pada masa yang akan datang. Secara sederhana, pembangunan ekonomi dapat dipahami sebagai upaya melakukan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya yang ditandai oleh membaiknya faktor-faktor produksi.

Strategi pembangunan dalam hal ini diberi batasan sebagai pemilihan atas faktor (variable) yang akan dijadikan faktor utama yang menentukan jalannya proses pertumbuhan. Strategi dan perencanaan pembangunan ekonomi indonesia di masa yang akan datang mengacu pada Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dan mengamanatkan agar pembangunan wilayah Indonesia dapat dilaksanakan secara seimbang serta serasi antara dimensi pertumbuhan dengan dimensi pemerataan, antara pengembangan Kawasan Barat dengan Kawasan Timur Indonesia, serta antara kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan. Hal ini dimaksudkan agar kesenjangan pembangunan antar wilayah dapat segera teratasi melalui pembangunan yang terencana dengan matang, sistematis, dan bertahap.

Beberapa strategi tersebut diantaranya :
  • Mengembangkan ekonomi daerah dan nasional melalui pengembangan sektor-sektor unggulan
  • Mengembangkan keterkaitan ekonomi antar daerah melalui pengembangan sistem jaringan transportasi yang mencakup sistem jaringan jalan, rel, pelabuhan laut, dan bandar udara yang melayani pengembangan ekonomi kawasan andalan dan kota-kota, sehingga terwujud struktur ruang wilayah nasional yang utuh dan kuat dalam kerangka NKRI.
  • Mengembangkan kawasan perbatasan sebagai ”beranda depan” negara dan pintu gerbang internasional yang menganut keserasian prinsip-prinsip ekonomi (Prosperity) serta pertahanan dan keamanan (Security).
  • Kerjasama antar wilayah (antar propinsi, kabupaten maupun kota-kota pantai, antara kawasan perkotaan dengan perdesaan, serta antara kawasan hulu dan hilir) sehingga tercipta sinergi pembangunan kawasan pesisir dengan memperhatikan inisiatif, potensi dan keunggulan lokal, sekaligus reduksi potensi konflik lintas wilayah
  • Orientasi pembangunan Indonesia ke depan adalah keunggulan sebagai negara maritim. Wilayah kelautan dan pesisir beserta sumberdaya alamnya memiliki makna strategis bagi pembangunan ekonomi Indonesia,karena dapat diandalkan sebagai salah satu pilar
  • Ancaman dan peluang dari globalisasi ekonomi terhadap Indonesia yang terutama diindikasikan dengan hilangnya batas-batas negara dalam suatu proses ekonomi global. Proses ekonomi global cenderung melibatkan banyak negara sesuai dengan keunggulan kompetitifnya seperti sumberdaya manusia, sumberdaya buatan/infrastruktur, penguasaan teknologi, inovasi proses produksi dan produk, kebijakan pemerintah, keamanan, ketersediaan modal,jaringan bisnis global, kemampuan dalam pemasaran dan distribusi global.

Tantangan pembangunan Indonesia ke depan sangat berat dan berbeda dengan
yang sebelumnya. Paling tidak ada 4 (empat) tantangan yang dihadapi
Indonesia, yaitu :
a)      Otonomi daerah
b)      Pergeseran orientasi pembangunan sebagai negara maritime,
c)      Ancaman dan sekaligus peluang globalisasi, serta
d)      Kondisi objektif akibat krisis ekonomi.

Akibat yang sering terjadi dari adanya kebijakan pembangunan ekonomi nasional adalah semakin melebarnya jurang kesenjangan antar wilayah secara nasional, yaitu antara perkembangan Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang meliputi Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali dan kepulauan Nusa Tenggara, relatif jauh tertinggal dibandingkan dengan perkembangan Kawasan Barat Indonesia (KBI). Hal ini dapat terlihat dari rendahnya produktivitas pedesaan dan meningkatkan jumlah penduduk miskin, di sisi lain melimpahnya sumber daya di perkotaan tetapi tidak dapat dikelola telah menyebabkan munculnya tingkat pengangguran yang tinggi dan pekerja di sektor informal yang terus meningkat di perkotaan yang akhirnya menyebabkan rendahnya produktivitas perkotaan. Dewasa ini kita lihat perencanaan pembangunan di Indonesia didasarkan pada paradigma pembangunan nasional, kebijaksanaan pembangunan, orientasi pembangunan, kewenangan pengelolaan dana pembangunan, mekanisme penyaluran dana pembangunan, mekanisme perencanaan pembangunan, arah kebijaksanaan program pembangunan.

Demikian uraian dari saya mengenai bagaimanakah strategi dan perencanaan pembangunan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang, semoga informasi yang saya berikan dapat menjadi sumber inspirasi dan berguna bagi pembangunan ekonomi Indonesia.